Salah satu kesalahan paling sering terjadi ketika seorang anak akhirnya berani bercerita adalah orang dewasa di sekitarnya langsung menggali. Ditanya berulang-ulang, dituntut menjelaskan dengan runtut, dan diminta mengingat detail yang bahkan orang dewasa pun sulit mengingatnya. Niatnya baik — ingin memastikan, ingin membantu. Akibatnya sering sebaliknya.
Anak bukan saksi dewasa berukuran kecil. Cara ia mengingat, memilih kata, dan memahami pertanyaan berbeda. Karena itu pendampingan anak dalam proses pelaporan punya aturan mainnya sendiri. Berikut hal-hal yang kami sampaikan kepada orang tua, guru, dan siapa pun yang berada di posisi menerima cerita seorang anak.
1. Jangan Meminta Anak Mengulang Ceritanya Berkali-kali
Setiap kali anak menceritakan ulang kejadian, ia mengalaminya kembali. Ini bukan kiasan. Pengulangan yang tidak perlu berdampak pada kondisi psikisnya, dan pada saat bersamaan membuat keterangannya berisiko berubah — bukan karena anak berbohong, melainkan karena ingatan memang bekerja begitu.
Karena itu, sedapat mungkin keterangan anak diambil satu kali oleh petugas terlatih. Bila Anda sudah mendengar ceritanya, cukup catat apa yang ia katakan dengan kata-katanya sendiri, lalu hubungi pendamping. Tugas Anda selesai di situ.
2. Hindari Pertanyaan yang Sudah Mengandung Jawaban
"Dia yang mukul kamu, ya?" berbeda jauh dari "Coba ceritakan apa yang terjadi." Pertanyaan bentuk pertama menyodorkan jawaban, dan anak — yang umumnya ingin menyenangkan orang dewasa — cenderung mengiyakan. Di pengadilan, keterangan yang lahir dari pertanyaan semacam itu mudah dipatahkan.
Gunakan pertanyaan terbuka dan sederhana:
- "Bisa ceritakan lagi dari awal?"
- "Setelah itu apa yang terjadi?"
- "Waktu itu kamu ada di mana?"
Bila anak berhenti bercerita, jangan dipancing. Diam sejenak jauh lebih baik daripada memberi petunjuk.
3. Percayai Dulu, Verifikasi Belakangan
Respons pertama yang didengar seorang anak menentukan apakah ia akan bercerita lagi atau menutup diri selamanya. "Masa sih?", "Jangan mengarang", atau "Nanti Ibu tanya dulu ke dia" adalah tiga kalimat yang paling sering membuat anak berhenti bicara.
Yang perlu didengar anak pertama kali cuma tiga hal: saya percaya, ini bukan salahmu, dan kamu tidak sendirian. Pedoman pendampingan anak SultanLulu PPA
Memverifikasi tetap perlu, tetapi itu pekerjaan pendamping dan aparat, bukan pekerjaan orang yang sedang menerima cerita.
4. Jangan Mempertemukan Anak dengan Pihak yang Ditakutinya
Niat "biar diselesaikan baik-baik" dengan mempertemukan anak dan orang yang dilaporkannya hampir selalu berakhir buruk. Anak akan menarik kembali ceritanya karena tertekan, dan setelah itu jauh lebih sulit baginya untuk kembali percaya.
Untuk kasus kekerasan seksual dan kekerasan berat, mediasi tidak dibenarkan. Kami pun tidak melakukannya.
5. Anak Berhak Didampingi Orang yang Ia Percaya
Saat pemeriksaan, anak berhak ditemani orang dewasa yang ia percayai — tidak harus orang tua, apalagi bila persoalannya justru ada di dalam rumah. Anak juga berhak diperiksa di ruang khusus, bukan di ruang terbuka yang dilewati banyak orang.
6. Jaga Rutinitasnya Tetap Berjalan
Sekolah, bermain, dan jadwal tidur yang tetap adalah bagian dari pemulihan, bukan hal sepele yang bisa ditunda sampai perkara selesai. Bila anak harus pindah sekolah demi keamanan, pengurusannya dapat dibantu lewat layanan pendampingan khusus anak.
7. Siapkan Diri Anda Sendiri
Orang dewasa yang mendampingi juga terguncang. Marah, merasa bersalah, dan ingin segera bertindak adalah reaksi yang wajar — tetapi keputusan yang diambil dalam keadaan begitu sering merugikan anak. Bila Anda merasa kewalahan, konseling untuk pendamping juga tersedia dan gratis.
Bila Anak Dalam Bahaya Sekarang
Hubungi 110 (Kepolisian) atau 129 / WhatsApp 0811 129 129 (SAPA 129, Kementerian PPPA). Keduanya layanan resmi negara yang berlaku 24 jam di seluruh Indonesia.
Tulisan ini disusun dari pengalaman pendampingan dan tidak memuat keterangan apa pun yang dapat mengungkap identitas korban.